GpriTSCiTpG5GSY9TpMoGfO9TY==

AI Harus Inklusif, ICT Watch dan Meta Latih Disabilitas Netra dan Tuli di Jakarta

AI Harus Inklusif, ICT Watch dan Meta Latih Disabilitas Netra dan Tuli di Jakarta
AI Harus Inklusif, ICT Watch dan Meta Latih Disabilitas Netra dan Tuli di Jakarta

NGANJUKTERKINI.ID — Upaya memperluas literasi digital yang inklusif terus digencarkan agar perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dapat dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Prinsip inklusivitas menjadi kunci agar tidak ada kelompok yang tertinggal dalam pemanfaatan teknologi yang kian berkembang pesat ini.

Sebagai wujud komitmen tersebut, ICT Watch berkolaborasi dengan Meta Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Literasi Kecerdasan Artifisial Ramah Disabilitas. Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta dari kalangan disabilitas netra dan tuli, serta berlangsung di Jakarta pada Selasa (20/1/2026).

Pelatihan ini dirancang dengan pendekatan partisipatif, melibatkan langsung komunitas disabilitas. Materi disampaikan oleh pelatih dari kalangan teman netra dan teman tuli, sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih relevan dan mudah dipahami. Dalam kesempatan yang sama, ICT Watch dan Meta juga meluncurkan dokumen Panduan Pelaksanaan Kegiatan Literasi Digital untuk Penyandang Disabilitas Netra dan Tuli.

Modul Pelatihan Literasi AI Ramah Disabilitas memuat pengenalan dasar mengenai cara kerja AI, sekaligus menekankan prinsip penggunaan yang aman, etis, dan bertanggung jawab. Modul ini dikembangkan melalui kerja sama dengan Komisi Nasional Disabilitas (KND), komunitas disabilitas, serta para pendidik Sekolah Luar Biasa (SLB).

Agar benar-benar dapat diakses oleh semua peserta, modul tersebut disajikan dalam format inklusif dengan berbagai fitur aksesibilitas. Mulai dari format easy-to-read dan ramah screen reader, hingga konten video berbahasa isyarat BISINDO, audio narasi, serta subtitle yang mendukung kebutuhan teman tuli dan netra.

ICT Watch menegaskan bahwa kesetaraan akses terhadap teknologi merupakan fondasi penting dalam pembangunan literasi digital nasional. Penyediaan sumber belajar yang inklusif dinilai menjadi langkah konkret agar pemanfaatan AI tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.

“Kami akan terus berkomitmen mendorong inklusivitas dalam program-program literasi digital, terutama di isu teknologi AI. Panduan dan modul literasi AI yang telah diterbitkan kami harap dapat digunakan seluas-luasnya, terutama dalam menjangkau kelompok teman netra dan teman tuli,” ujar Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti.

Dari sisi industri teknologi, Meta Indonesia menilai bahwa demokratisasi teknologi menjadi syarat utama agar inovasi digital benar-benar membawa manfaat sosial yang luas.

“Meta mendorong demokratisasi teknologi, khususnya AI, agar dapat dimanfaatkan oleh semua kalangan tanpa terkecuali guna memastikan inovasi yang kami kembangkan relevan dan bermanfaat bagi setiap lapisan masyarakat,” ujar Manager Kebijakan Publik Meta Indonesia, Nadhila Renaldi (Dhea).

Pembukaan pelatihan ini turut dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan lintas kementerian dan lembaga. Di antaranya perwakilan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Komisi Nasional Disabilitas (KND), Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), serta Kementerian Sosial (Kemensos).

Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, Jonna Aman Damanik, dalam sambutannya menekankan bahwa kehadiran AI seharusnya dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas.

“Kita harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi agar kehidupan menjadi lebih baik, serta ruang dan peluang dalam berbagai aspek hidup semakin terbuka lebar,” tuturnya.

Kemkomdigi juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif pelatihan ini yang dinilai strategis dalam memperkuat literasi teknologi masyarakat di tengah percepatan transformasi digital nasional.

“Pelatihan ini sangat penting agar kita memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk memahami bagaimana kecerdasan artifisial bekerja. Sehingga kita tidak lagi menjadi objek oleh teknologi, tetapi menjadi subjek yang mampu menuntut transparansi dan akuntabilitas dari penyedia teknologi kecerdasan artifisial,” kata Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru Kemkomdigi, Aju Widyasari.

Sebagai kelanjutan dari program ini, ICT Watch dan Meta Indonesia telah menjadwalkan pelatihan serupa di Bandung pada 22 Januari 2026, dengan harapan semakin banyak penyandang disabilitas yang mendapatkan akses literasi AI secara inklusif dan berkelanjutan.

slot

Ketik kata kunci lalu Enter

close