GpriTSCiTpG5GSY9TpMoGfO9TY==

Ilmuwan China Temukan Mutasi Virus Ebola yang Tingkatkan Daya Infeksi

Ilmuwan China Temukan Mutasi Virus Ebola yang Tingkatkan Daya Infeksi
Ilmuwan China temukan mutasi virus Ebola yang tingkatkan daya infeksi. (Dok. Ist)

NGANJUKTERKINI.ID — Tim ilmuwan China berhasil mengidentifikasi mutasi penting pada virus Ebola yang terbukti meningkatkan daya infeksi secara signifikan selama wabah besar.

Temuan ini membuka wawasan baru dalam pengawasan epidemi, sekaligus menjadi pijakan penting bagi pengembangan obat dan strategi pengendalian penyakit menular ke depan.

Riset tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Cell dan dipimpin oleh Profesor Qian Jun dari Universitas Sun Yat-sen.

Penelitian ini melibatkan kolaborasi lintas institusi, termasuk Rumah Sakit Rakyat Kedelapan Guangzhou di bawah Universitas Kedokteran Guangzhou, Rumah Sakit Pertama Universitas Jilin, serta tim peneliti lain dari Universitas Sun Yat-sen.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam wabah besar penyakit menular baru, pengawasan genomik secara waktu nyata (real-time) dan analisis evolusi patogen merupakan hal yang krusial," kata Qian kepada Xinhua, Senin (26/1).

Ia menjelaskan, pemantauan genom secara berkelanjutan tidak hanya berfungsi sebagai sistem peringatan dini terhadap peningkatan risiko penularan, tetapi juga membantu menilai efektivitas obat dan vaksin yang sudah ada, sehingga strategi pengendalian dapat disesuaikan secara preventif.

Penelitian ini berfokus pada wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo periode 2018–2020, yang tercatat sebagai wabah terbesar kedua sepanjang sejarah penyakit tersebut.

Pada periode itu, lebih dari 3.000 orang terinfeksi dan lebih dari 2.000 di antaranya meninggal dunia.

Salah satu pertanyaan utama yang ingin dijawab tim peneliti adalah apakah evolusi virus turut berperan dalam lamanya durasi dan luasnya dampak wabah, selain faktor keterbatasan layanan kesehatan di wilayah terdampak.

"Kami telah lama mengetahui bahwa mutasi virus yang penting kerap menjadi pendorong tak terlihat yang mempercepat penularan dalam wabah besar. Setelah meneliti Ebola selama lebih dari satu dekade, kami perlu menyelidiki apakah pola mutasi serupa juga terjadi pada virus ini," ujar Qian.

Pada 2022, tim peneliti menganalisis 480 genom lengkap virus Ebola dan menemukan varian dengan mutasi spesifik pada glikoprotein virus, yang diberi nama GP-V75A.

Varian ini muncul sejak fase awal epidemi di RD Kongo dan dengan cepat menggantikan galur asli.

Para peneliti mencatat bahwa peningkatan dominasi varian GP-V75A selaras dengan lonjakan jumlah kasus, yang mengindikasikan keunggulan dalam hal kemampuan penularan.

Uji lanjutan menggunakan berbagai model eksperimen menunjukkan bahwa mutasi GP-V75A secara signifikan meningkatkan kemampuan virus untuk menginfeksi beragam jenis sel inang, termasuk pada pengujian menggunakan tikus.

Tak hanya itu, riset ini juga mengungkap potensi tantangan klinis.

Mutasi tersebut diketahui menurunkan efektivitas sejumlah antibodi terapeutik dan inhibitor molekul kecil yang sebelumnya digunakan sebagai antivirus, sehingga memunculkan risiko resistensi obat.

"Temuan-temuan ini menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap genom virus saat wabah berlangsung untuk mengantisipasi ancaman evolusi serta memberikan informasi tentang pengembangan langkah-langkah penanggulangan berspektrum luas," kata tim peneliti.

Makalah ilmiah berjudul “Karakterisasi Molekuler Substitusi Glikoprotein V75A Virus Ebola pada Epidemi 2018–2020” kini telah tersedia dan dapat diakses secara daring.

Slot dana

Ketik kata kunci lalu Enter

close